Zay Muttaqin

June 25, 2010

Mengorek Masa lalu yang Belum Tuntas

Filed under: Oranje Van Nassau — E.Zaenal.Muttaqin @ 9:36 am

Episode Perang Kemerdekaan

kemerdekaan republik Indonesia sudah berlangsung lebih dari setengah abad sejak proklamasi dikumandangkan pada tahun 1945 ketika dengan gagah beraninya para pemuda dan bapak proklamator menentang penjajahan. Hal tersebut mengingatkan kepada kita betapa perjuangan para pahlawan dahulu kala sangat gagah berani dan tak pantang menyerah untuk menentukan nasib bangsanya ke arah yang lebih baik dan melepaskan diri dari penjajahan.

Meskipun demikian, bukan berarti perjuangan selesai sampai disana, pengakuan dunia dan khususnya Belanda sebagai penjajah yang saat itu baru saja terlepas dari penjajahan Nazi Jerman ingin kembali menguasai bumi pertiwi dengan melancarkan berbagai aksi militer yang disebut dengan politionel actie atau yang lebih dikenal dengan agresi militer Belanda yang terjadi pada renang waktu 1946-1949 di berbagai daerah di Indonesia. Pada rentang waktu ini juga berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan perang terjadi di masa ini. Agresi militer Belanda bermula dari ultimatum yang disampaikan oleh Van Mook yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal sesudah masa pendudukan Jepang, lebih lanjut ia menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian Linggarjati dan saat itu jumlah personel tentara Belanda mencapai ratusan ribu yang siap melancarkan aksinya untuk memperoleh kembali wilayah jajahannya.

Namun agresi yang brutal tersebut tidak mengindahan peraturan internasional dan menganggap semua rakyat Indonesia baik wanita dan anak-anak sebagai musuh mereka dan karenanya banyak korban berjatuhan dari kalangan tersebut. Salah satu contoh tersebut dapat dilihat dari pembantaian Kapten Westerling di Sulawesi, tragedi Rawagede di daerah karawang dan Bekasi serta daerah daerah lainnya di Nusantara. Agresi militer ini mampu merebut beberapa wilayah yang dikuasai oleh tentara republik, agresi tersebut kemudian dilaporkan oleh Indonesia kepada dewan keamanan PBB sebagai aksi yang brutal, dan karenanya amendapatkan kecaman dari dunia internasional dan karenanya Belanda menghentikan aksi militernya dan kemudian dengan difasilitasi oleh PBB membentuk sebuah komite jasa baik untuk masalah Indonesia yang juga dimasukan dalam agenda dewan keamanan PBB. Perundingan tersebut kemudian menghadirkan 3 negara perunding yang berpartisipasi yaitu Belgia yang diilih oleh Belamda, Australia yang dipilih oleh Indonesia, dan Amerika sebagai pihak yang netral.

Meskipun perundingan dan perdamaian diusahakan, tetapi pada kelanjutannya yaitu pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda kembali melancarkan agresi militernya yang kedua dan menyatakan bahwa mereka tidak terika ladi dengan perjanjian Renville. Dengan begitu peperangan antara tentara republik dan tentara Belanda kembali terjadi.

Sebuah pengakuan

lepasnya Indoesia dari Belanda ketika Jepang berkuasan di bumi pertiwi merupakan hal yang tak terduga dan musibah yang tidak bisa dihindari oleh Belanda yang kemudian terpaksa harus menerima kekalahannya. Namun setelah Jepang kalah perang dan sudah tidak berdaya, maka Belanda dengan dukungan Sekutu kembali datang ke Indonesia untuk kembai mengklaim tanah jajahannya. Sungguh ketakutan akan hilangnya Indonesia dari cengkraman Belanda sangat terlihat jelas dengan aksi militer yang dilancarkan, dengan tergantungnya Belanda terhadap Indonesia lebih dari 300 tahun lamanya, hal ini dapat dibayangkan dengan pendapatan belanda yang hampir separuhnya berasal dari Indonesia selama masa penjajahan berlangsung. Dengan hilangnya Indonesia dari genggaman Belanda terutama ketika secara resmi Belanda mengakui kedaulatan republik Indonesia pada tanggal 27 desember 1949 dengan ditandatanganinya serah terima kekuasaan di Amsterdam. Kesedihan dan kepanikan mulai terasa yang melatarbelakangi lahirnya semboyan “indie verloren rampspoed geboren”(indonesia hilang, kekacauan lahir).

Refleksi dari semboyan tersebut salah satunya dengan meletusnya agresi militer belanda seperti tersebut di atas dan pengakuan kedaulatan indonsia yang bukan pada tahun 1945 melainkan pada tahun 1949. dengan mengakui kedaulatan tahun 1945 bagi belanda sama halnya dengan mengakui kesalahan aksi militer yang dilancarkan pada waktu itu, meskipun akhirnya pada tahun 2005 Belanda melalui menteri luar negeri Bott yang juga menghadiri HUT kemerdekaan Indonesia menyatakan pengakuannya dengan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 dan menyatakan permohonan maaf atas kesalahan Belanda di masa lalu.

Pada dasarnya, pengakuan oleh Belanda tentang tanggal kemerdekaan Indonesia tahun 1945 bukanlah hal yang terpenting apabila dibandingkan dengan kejahatan perang yang belum diproses dimuka pengadilan pada periode 1946-1949 yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa baik perempuan, orangtua, dan anak-anak yang tidak berdosa. Sebagai contoh adalah perlakukan Westerling yang membantai ribuan jiwa rakyat Sulawesi yang sampai wafatnya di tahun 1987 belum pernah disidangkan atas kejahatan perang yang dilakukan, kemudian juga peristiwa Rawagede yang belum diselesaikan secara hukum di muka pengadilan, dan lain sebagainya.

Berbagai advokasi dan upaya untuk mengungkap kasus ini sudah banyak dilakukan dari berbagai elemen masyarakat yang perduli terhadap permasalahan tersebut, namun proses tersebut belum membuahkan hasil. Proses advokasi tidak hanya dilakukan oleh orang indonesia saja melainkan juga oleh orang Belanda sendiri dan dari berbagai elemen, seperti yang dilakukan oleh GJW Puller dari sebuah kantor pengacara di Amsterdam yang melayangkan surat resmi kepada perdana menteri Jan Pieter Balkenende untuk segera mengambil sikap dan menyatakan permohonan maaf kepada keluarga korban.

Masalah sengketa seputar pengakuan belanda kepada indonesia mengenai kemerdekaan 1945 sebenarnya masih menyisakan perdebatan dan darinya lahir beberapa pihak yang masih mendesak pemerintah Belanda untuk mengakui kemerdekaan pada tanggal tersebut, diantara komunitas tersebut semuanya memiliki satu tujuan untuk mengakui kedaulatan indonesia atau kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. terlepas dai niat baik yang sebenarnya sudah ditunjukan dari pemerintha belanda seperti ernytaan menteri luar negeri belanda dan kunjungannya pada upacara kemerdekaan indonesia pada tahun 2005 yang tentu saja sangat luar biasa dan fenomenal, wacana tersebut justru tetap bergulir yang pada dasarnya bukan bertujuan untuk mendesak pengakuan tersebut, namun untuk mengungkap beberapa fakta yang belum terungkap seputar hal tersebut.

Diskusi panel dengan tema pluralisasi narasi kemerdekaan Indonesia yang diadakan di Universitas Leiden beberapa waktu yang lalu merupakan salah satu contoh dari keinginan beberapa mahasiswa Indonesia yang ingin mencoba mengkaji dan menggali lebih dalam fakta yang baru dan belum terkuak seputar kemerdekaan dan perang kemerdekaan hingga tahun 1950 ketika secara penuh kedaulatan diraih oleh Indonesia dari Belanda. Di sau sisi gagasan untuk memunculkan fenomena yang tidak terungkap atau mungkin fakta historis sangat bermanfaat sebagai refleksi dan bahan kajian mendalam bagaimana proses revolusi dan perjuangan kemerdekaan berlangsung, bagaimana peran otoritas, sosial dan aspek penting lainnya bermain dalam proses tersebut. Sebagai contoh media dan komunikasi, seperti halnya pemahaman yang modern tentang media dan komunikasi dalam proses politik maka hal itupun memiliki pengaruh yang sangat besar seperti yang ditujukan oleh beberapa orang seperti Chairil Anwar, dan seniman lainnya yang memuat propaganda revolusi, serta beberapa sarana komunikasi lainnya seperti radio dan koran. Contoh tersebut adalah sebagian saja dari cerita narasi yang terungkap an diungkapkan dari episode kemerdekaan dan perang kemerdekaan Indonesia.

Dekonstruksi Pemikiran

indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad dengan berbagai pencapaian yang seyogyanya kita berikan apresiasi terlepas dari kekurangan yang ada, sejarah adalah refleksi untuk membangun masa depan yang lebih bagus dan cerminan bagi siapa saja. Terhadap kasus Indonesia yang saat ini masih terdapat mbeberapa kelompok yang mempersoalkan pengakuan 1945 sebagai kemerdekaan Indonesia dari Belanda harus dilihat dari dua sisi, meskipun terkadang menimbulkan asumsi yang cenderung mengorek masa lalu dan enggan untuk menatap masa depan. Ungkapan tersebut tidak kemudian serta merta menafikan kelompok yang berjuang untuk mendapatkan pengakuan tersebut (meskipun pemerintah Belanda sudah mengakuinya) tetapi ada hal yang lebih patut kita fikirkan sebagai bangsa Indonesia untuk membangun bangsa ini dan memikirkan kelanjutan hubungan dengan Belanda itu sendiri dalam format dan bentuk yang berbeda dalam kerangka hukum internasional dan hubungan bilateral untuk menunjang kemajuan kedua bangsa, khususnya Indonesia.

Paling tidak formulasi hubungan harus direkonstruksi dengan hal-hal yang diarahkan kepada:

  1. berdasarkan memori sejarah yang saling berkaitan antara Indonesia dan Belanda yang darinya hubungan kedua negara akn terjalin lebih erat. Ikatan sejarah tersebut(terlepas dari baik dan buruk) telah membentuk akulturasi budaya dabik dalam politik, hukum, sosial budaya dan lain sebagainya yang samapai saat ini, meskipun tidak semuanya, masih berlaku dan menjadi norma yang dianut oleh bangsa Indonesia
  2. membangun relasi yang simetris dan sejajar antara kedua bangsa sehingga akan terjalin keterbukaan dan keharmonisan hubungan
  3. membangun institusi dan struktur hubungan yang lebih sistematis
  4. memenuhi aspirasi masyarakat yang berdasarkan keadilan diantara kedua negara
  5. memiliki dan membangun kapasitas masing-masing
  6. bekerjasama dalam peuntasan ketidakadilan dan pelanggaran HAM berat yang pernah terjadi di masa perang kemerdekaan, sehingga baik dari masyarakat Belanda maupun Indonesia merasakan keadilan yang diperjuangkademikian sejarah adalah sebuah hal yang bukan harus disesali dan dijadikan media untuk memusuhi orang lain ataupun bangsa yang telah menorehkan episode buruk kepada kita sebagai bangsa Indonesia, namun mari kita jadikan sebagai refleksi dan cerminan untuk menatap dan meraih masa depan yang lebih baik.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: