Zay Muttaqin

March 29, 2010

Negeri Van Wilhelmus: sebuah Cita-Cita

Filed under: Oranje Van Nassau — E.Zaenal.Muttaqin @ 11:04 am

Entah dari mana datangnya ide dan pemikiran untuk meraih cita-cita sekolah ke luiar negeri, saya sendiri tidak mengerti dengan pasti dari mana inspirasi tersebut datangnya, tiba-tiba saja menyeruak kedalam benak dan pikiranku yang kala itu masih duduk di bangku kelas 3 Tsanawiyah atau setara dengan SMP. Mungkin saja itu hanya khayalan dan angan-angan kosongku saja yang pada waktu itu masih belum mengerti tentang segala hal, tetapi terasa aneh karena lagi-lagi pikiranku selalu membayangkan negeri Belanda yang dimana saat ini saya berada.

Mungkin terasa aneh dan sulit membayangkan bahkan bagi saya yang mencoba kembali membuka memori dan romantisme masa lalu tentang khayalanku tersebut, bahkan betapa saya masih ingat kala itu obrolan tentang keinginanku melanjutkan kuliah ke Belanda setelah lulus dari Aliyah di Daar el-Qolam, sebuah lembaga pendidikan pesantren yang cukup berjasa dalam memberikanku bukan hanya pengetahuan tetapi juga pelajaran hidup. Setelah selesai dengan tahapan pendidikan di tingkat Aliyah, ternyata cita-cita tersebut sempat terendap untuk beberapa saat karena ternyata orang tua menginginkan agar saya melanjutkan ke universitas di dalam negeri terutama UIN yang dulu bernama IAIN, pada dasarnya tidak melulu faktor itu saja yang mengurungkan niatku, namun ada kecenderungan dimana milieu saat itu yang mendorong saya untuk masuk UIN, kali ini terpaksa kupendam cita2ku, di sini saya mengambil jurusan syariáh dan Hukum yang kemudian saya selesaikan dalam waktu 3 tahun 4 bulan. Setelah lulus keinginan meneruskan studi di luar negeri semakin begitu kuat, namun berkembang dan tidak melulu tertuju ke satu negaa seperti Belanda misalnya, karena pikiran yang ada saat itu pokoknya saya harus ke luar negeri, segala macam aplikasi dan penawaran beasiswa saya ajukan namun semuanya tidak satupun berhasil, memang saat itu kemampuan bahasa inggris yang diukur dengan TOEFL belum begitu saya kuasai dengan baik.

Setelah hampir dan sedikit putus asa, saya akhirnya mencoba pasrah dan down to earth”terhadap realita betapa susahnya sekolah di luar negeri, namun tidak demikian ketika seorang dosen di IAIN tempatku menawarkan beasiswa Islamic Studies dari Belanda, sekejap itu juga saya merasa impian saya akan terkabul, akhirnya saya mendatangi Dosen tersebut dan kemudian segala persyaratan saya lengkapi dengan panduan dan bimbingan dosen tersebut,. Tahapan berkas dan wawancara alhamdulilah saya lewati dengan baik yang kemudian saya dan beberapa teman yg lolos dan kebetulan ada teman dari serang yang dosen namun masih seumuran dengan saya yg ternyata lolos, akhirnya kami dikarantina di Jakarta di sebuah lembaga Bahasan Inggris yang khuusu menangani bimbingan Toefl untuk calon mahasiswa yang akan ke luar negeri, 3 bulan kursus saya lewati dengan penuh dinamika dan sulitnya mencapai skor 550. Setelah mengikuti kursus kami harus melewati satu tahapan ujian yang sangat menentukan yaitu test Toefl yang sesungguhnya yang menurut saya sangat sulit dan entah apakah saya bisa melewatinya dengan baik atau tidak.

Hari itu hari rabu, tepat jam 12.30 ujian di mulai, saya sudah berada di lokasi satu jam sebelumnya demi untuk menghilangkan kegugupan dan deg-degan saat ujian, ujian sebenarnya berjalan lancar dan dalam hati saya yakin bahwa saya bisa dan mampu mendapatkan minimal skor 550. Selama masa penantian menunggu pengumuman skor sungguh seperti berada dalam garis pemisah antara hidup dan mati, ya sangat menentukan dan sangat mendebarkan, akhirnya saya mendapat telfor dari Neso Jakarta yg menyatakan bahwa skor saya hanya 517 dan belum bisa dinyatakan lulus,namun akan dikonsultasikan kembali dengan pihak universitas di Belanda. Entah bagaimana menggambarkan perasaan tersebut dalam tulisan, sungguh benar-benar berita yang menyesakan hati, akhirnya beberapa menit kemudian telfon kedua berdering dan saat itulah saya seperti ditampar oleh kenyataan pahit bahwa saya belum bisa berangkat karena skor yang masih belummencukupi, seketika itu saya menangis, menangis karena saat itu saya merasa Allah tidak adil pada saya, kenapa sekarang kegagalan itu muncul, kenapa di saat satu langkah lagi impian saya terwujud Allah memutusnya begitu saja, kenapa tidak saat awal ketika harapan dan keinginan saya masih tidak begitu besar?, entahlah itu rahasia Allah, beruntung saya memiliki orangtua yang selalu dapat meyakinkan saya bahwa ini bukanlah kegagalan, namun sebuah pelajaran hidup yang harus dimengerti maknanya, untuk beberapa saat saya mulai bangkit dan merasa bahwa tidak berguna menyesali itu semua.

Sebelum saya mendaftar beasiswa ke Belanda, sebenarnya saya sudah mendaftar untuk menganbil S2 hukum di universitas Padjadjaran Bandung, meskipun hal tersebut adalah unintended destination tetapi saya tidak mengerti kenapa saya bisa lulus, terkadang hal ini juga yang menjadi renungan panjang  mengenai sesuatu hal yang diluar kemauan kita dan kehendak kita ternyata datang begitu mudah dan tidak disangka, namun sesuatu yang benar-benar diinginkan ternyata hanya sebuah kegagalan yang saya terima, beberapa kali saya alami hal tersebut dan termasuk beasiwa ini.

Tawakkal, mungkin itulah cara agar selalu bisa hidup dengan tenang dan selalu mensyukuri, karena hal tersebut juga yang coba saya jalani selama kuliah di Bandung. Alhamdulilah pada saat itu saya masih bisa bersyukur kepada Allah karena dengan keberadaanku di bandung justru bisa mengenal dan bercengkrama dengan pengalaman, teman, dan pelajaran hidup baru yang tidak pernah terlupakan seumur hidup.

Keinginan dan usaha untuk mendapatkan degree dari luar negeri sebenarnya tidak sirna, semasa di bandung segala informasi tentang beasiswa selalu saya update meskipun tidak menjadi prioritas. berkat hubungan yang masih terjaga dengan salah satu teman saya yang seangkatan di karantina bahasa namun ia berangkat, akhirnya saya diberitahu bahwa ada pembukaan kembali beasiswa untuk Islamic Studies, tadinya saya tidak terlalu bersemangat karena mungkin masih ada sisi trauma dan lagipula saat itu konsentrasi tertuju penuh kepada tesis yang sedang diranpungkan, namun sungguh saya benar-benar berterimakasih kepada dia, Noblana Adib, ya karena informasi dan dorongan darinya saat itu akhirnya saya putuskan untuk melengkapi aplikasi dan mendaftar untuk yang kedua kalinya. Langkah ini awalnya sempat mendapat keraguan dari kedua orangtua yang saat itu lebih mengiinginkan agar seluruh konsentrasi tertuju kepada penyelesaian S2 di Bandung, tapi dengan keyakinan yang saya punya saya jelaskan segalanya, dan akhirnya mereka menyetujui meskipun dengan berat hati.

Tahap seleksi berkas dan wawancara alhamdulilah saya lalui dengan baik dan untuk kedua kalinya saya mengikuti karantina bahasa di tempat yang sama pula, ada kekhawatiran yang kemudian terjadi juga ketika mengikuti kursus tersebut, yaitu guru-guru yang pernah mengajar saya pada periode sebelumnya pasti menanyakan” ngapain kamu disini, kok ga jadi berangkat?” dan benar saja itu terjadi yang tentu membuat saya merasa malu terlebih terhadap guru native yang menodong pertanyaan kepada saya” what are you doing here?”, namun itu hanya sebentar dan terjadi pada awalnya saja, setelah itu saya jalani semua dengan perasaan berbeda, dan entah mengapa setiap try out ujian Toefl yang diadakan setiap dua minggu sekali saya mendapatkan nilai diatas 550, selain itu kekhawatiran tidak lulus tidak sedikitpun menghantui pikiran saya yang sebelumnya, yaitu pada periode yang lalu terus menghantui perasaan antara lulus dan tidak lulus.

Setelah masa kursus berakhir seperti biasa kami, pada waktu itu berjumlah 10 orang mengikuti tes toefl yang diadakan di jakarta, kali ini sungguh berbeda karena saya merasakan ketenangan dan keyakinan yang berbeda karena selesai ujian semua saya pasrahkan kepada Allah untuk hasil yang akan saya dapatkan, lulus atau tidak lulus harus disyukuri, itu tekadku dalam hati. Selang seminggu kemudian akhirnya pengumuman di keluarkan, sungguh maha besar kekuasaan Allah, akhirnya saya lulus dengan skor toefl 570, skor yang tidak pernah dibayangkan bahkan melintas sedikitpun dibenak saya, syukur, dan syukur mengucap alhamdulilah adalah satu-satunya perkara yang harus dilakukan, dan selang beberapa bulan sebelum keberangkatan ke negeri ratu Beatrix, saya lulus ujian tesis di UNPAD dan berhak menyandang gelar MH (magister hukum) dengan predikat cum laude dan IPK 3,72, SUBHANALLAH, sungguh nikmat yang luar biasa, meskipun tidak sempat mengikuti perhelatan wisuda pada tanggal 25 Februari 20010 karena pada tanggal 31 Januari 2010 saya sudah harus terbang ke Belanda. Cita-cita itu tercapai, dan Allah tidak pernah ingkar janji terhadap keinginan yang kita mintakan kepada Nya.

Akhirnya saya mengerti secara jelas tentang perjalan saya tersebut, serangkaian perjalanan menuju cita2 begitu eumit dan sulit dimengerti, tapi satu kesimpulan bahwa Allah tidak pernah ingkar janji. Serangkaian itu dapat dijabarkan dengan seksama. Awalnya setelah lulus Aliyah ingn sekali melanjutkan ke IAIN Bandung sampai-sampai harus berdebat dengan orangtua, namun akhirnya saya ikuti untuk masuk di IAIN Jakarta, namun setelah lulus dari UIN Jakarta, ternyata hikmah kegagalanku ke Belanda adalah karena Allah ingin mengabulkan permintaanku dahulu yang ingin berkuliah di Bandung, dan alhamdulilah aku diterima di Unpad dan selesai dengan baik, kemudian setelah itu aku menyadari bahwa Allah memberikan kesempatan dan sekaligus mengabulkan doa ku untuk sekolah ke Belanda, rasa syukur selalu kupanjatkan dan saat ini benar-benar menyadari bahwa apapun yang kita minta selama memiliki niat yang dibarengi dengan doa dan usaha pasti Allah mengabulkannya, “wa kullu fi’lihi bil hikmah” begitulah penggalan syair arab yang selalu kuingat sebagai acuan agar tetap bersyukur dan bersyukur. (Leiden, 29 Maret 2010)

3 Comments »

  1. hihihi, mirip cerita di novel Negeri 5 Menara. Man Jadda Wajada. Siapa yg bersungguh-sungguh pasti akan dapat.

    Gitu dong, blog diupdate terus. Mana nih kiriman2 buat gw, dah gw tungguin nih:))

    regarard
    eka_aa

    Comment by Eka An Aqimuddin — April 13, 2010 @ 5:42 pm

  2. Ceritanya luar biasa impian yang ada dari bangku SMP akhirnya tercapai juga itu berkat kesungguhan anak manusia untuk berusaha, bersyukur dan bertawaqqal kepada Allah Swt… aku bangga banget tapi mhn aku dikasih judul buat tesis dong … aku pengin fokus ke masalah tanah wakaf produktif blh kan aku shering … dengan anda…

    Comment by Eka M — May 15, 2010 @ 1:52 pm

    • makasih banyak atas testimoninya, maa juga baru bls sekarang karena saat ini saya jarang buka blog. mengenai tanah wakaf produktif itu hal cukup menarik saat ini karena prospektif dari berbagai segi cukup menarik, sepertinya masalah institusionalisasi dan pelembagaan wakaf dalam hal wakaf tanah cukup menarik.

      Comment by zaymuttaqin — June 3, 2010 @ 6:38 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: