Zay Muttaqin

September 2, 2009

TERORISME DALAM KEDUDUKAN HUKUM INTERNASIONAL ISLAM (2)

Filed under: Islamic Thought — E.Zaenal.Muttaqin @ 6:09 am

A. Pendahuluan

Hubungan antara Negara-negara pada mulanya sudah ada sejak manusia itu sendiri mengenal peradaban dan layaknya hubungan antara individu-individu itu sendiri. Konsekuensi logis dari adanya hubungan tesebut tentunya melahirkan suatu tata aturan dan hukum yang melandasi hubungan tersebut.

Adalah hubungan internasioanl sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang mengkaji mengenai hubungan tersebut lahir pada abad-abad baru, dan masih mengalami perkembangan. Hubungan internasional memiliki makna Internasional Publik recht(Belanda) Ius Intergentes(Jerman) International Law (Inggris) Droit International (Perancis)[1]. Secara lebih lengkap dapat dijabarkan bahwa hukum internasional adalah hukum dengan ketentuan ketentuan yang mengatur pergaulan antara Negara dalam rangka itu pula mengatur hubungan antaranya. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjadikan hubungan diantara seluruh Negara di dunia menjadi aman dan saling menghargai kedaulatannya masing-masing.

Namun  jauh sebelum bangsa Eropa dan Amerika mengalami masa keemasan dan memformulasikan ilmu ini, ternyata peradaban muslim telah mengalaminya lebih dulu. Pencetus dan ahli hukum internasional De Grotius menyatakan bahwa sebenarnya hukum internasioanl telah ada sejak lahirnya manusia di dunia ini, namun sebagai ilmu pengetahuan hukum intenasional dilahirkan dari Islam yang bersumber dari Al-qur’an yang memuat prinsip-prinsip hukum internasional tersebut[2].

Sebagaimana halnya ilmu hukum internasional barat, dalam wacana islam hukum internasional juga banyak memuat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan aturan atas hubungan antara Negara, misalnya berkaitan dengan kategori perdata dan pidana internasional, meskipun masih belum mencapai kesempurnaan karena pada waktu itu media yang terbatas sangat terbatas.

Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa pada tataran hukum internasional Islam juga mengatur hal yang berkaitan dengan segala bentuk aturan yang berhubungan dengan Negara. Namun pada masa kontemporer saat ini kita bisa melihat bahwa keadaan dunia sedang mengalami ketidaknyamanan dan penuh dengan rasa khawatir terhadap tindakan terorisme, terorisme mulai bergulir memang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu ketika bangsa yahudi menyerang wilayah yang sekarang bernama Israel terhadap bangsa Romawi. Kendatipun begitu kaitan terorisme dengan halnya hukum internasional merupakan satu kekhawatiran global masyarakat Dunia. Rentetan kejadian yang menimbulkan korban jiwa yang disadari akibat adanya terorisme. Namun permasalahan tidak berhenti sampai disitu saja, maslah terorisme kemudian berlanjut kepada permasalahan agama dan ideology yang dianggap sebagai pemicunya, tengok saja bagaimana kelompok Marxis dan ideology kiri melakukan perlawanan pada perang dingin (Cold War)[3].

Dengan begitu pada tataran pembahasan ini akan dikaji hal yang berkenaan dengan kejahatan terorisme sebagai kejahatan global dalam kedudukan hukum internasional Islam. Pasca tragedy Nine eleven di menara kembar, terorisme selalu dikaitkan dengan gerakan radikal Islam yang berpusat pada organisasi Al-Qaeda pimpinan Osama bin laden, dan ia pun diyakini sebagai pelaku yang bertanggung jawab atas peristiwa Nine eleven[4]. Artinya bahwa tragedy terorisme selalu dikaitkan dengan Islam, ajaran Islam yang fundamental dan sebagainya, terlebih para pelaku bom Bali seperti Amrozy (Smiling Bomber)dan Imam Samudra menyatakan bahwa sebenarnya apa yang mereka lakukan adalah jihad dan bahkan melawan teroris.

Berdasarkan hal tersebut tentunya bisa dikatakan terjadi suatu kesalahan dalam memahami ayat dan teks Qur’an. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa dikatakan sebagai jihad sementara dilain sisi harus mengorbankan orang yang tidak berdosa. Maka disinilah akan dikaji bagaimana kaitannya hukum internasional islam yang didalamnya trmasuk ada kategori jihad menaggapi permasalahan terorisme sebagai kejahatan atau mungkin bentuk jihad intu sendiri.

B. Terorisme Dunia Modern

Pertarungan ideology yang sangat gencar pada decade saat ini dan benturan peradaban, tradisi dan wacana, membuahkan satu bentuk anarkisme global yang sangat mengancam umat manusia. Benar adanya bahwa saat ini pergeseran makna terhadap terorisme telah mengarah kepada permasalahan ideologi suatu paham. Anggapan lain mengemuka bahwa munculnya terorisme berkaitan dengan masalah kapitalisme global yang banyak merenggut dan menggilas orang-orang yang tak berdaya secara ekonomi dan politik, akhirnya pemenuhan hak social dan politik bagi sebagian orang tidak pernah terlaksana. Pada kenyataannya banyak kemudian bermunculan kelompok radikal dalam agama melakukan suatu perlawanan dalam bentuk yang sebenarnya terdapat perdebatan antara konteks jihad dan kejahatan terorisme itu sendiri. Oleh karena itu teroris berkedok agama sebagai legitimasi banyak mempengaruhi sebagian orang sebagai tindakan yang mulia untuk melawan suatu bentuk kedzaliman terhadap kaum muslim, kendatipun seperti itu untuk mengetahui lebih lanjut ada baiknya kita mengetahui makna terorisme yang sesungguhnya.

1.Makna Terorisme

Pemaknaan rerhadap terorisme terus bergulir dan kenyataannya banyak melahirkan ratusan definisi yang berbeda-beda, namun semuanya mengarah kepada suatu pendefinisian yang mengarah kepada tujuan yang sama yaitu membuat ketakutan dan ketegangan. Kata terorisme di derivasi dari bahasa latin terrere yang berarti membuat ketakutan, dan terorisme sebagai suatu perbuatan yang menimbulkan terror untuk tujuan tertentu[5]. Namun dalam kamus bahasa Inggris keban yakan, terorisme  lebih mengarah kepada pemenuhan hak politik dengan cara kekerasan dan berusaha merongrong pemerintahan yang sah.  violence or the threat of violence,especially bombing, kidnapping, and assassination, carried out for political purposes[6]. Pengertian diatas memang dapat dirata-ratakan sebagai dari pengertian terorisme itu sendiri, namun berbeda dengan pengertian Hoffman tentang terorisme, ia menyatakan bahwa terorisme ialah “the deliberate creation and exploitation of fear through violence or the threat of violence in the pursuit of political change”[7]. Namun kita dapat memahami arti yang cukup dari definisi yang diciptakan oleh PBB pada tahun 1990 mengenai terorisme adalah”as the unlawful use of, or threatened use, of force or violence against individuals or property to coerce and intimidate government or societies, often to achieve political, religious, or ideological objectives.” Jadi kehendak terorisme sebenarnya bukan hanya terletak pada pemenuhan satu tujuan saja, namun pada intinya adalah menimbulkan ketegangan, ancaman dan ketakutan pada setiap orang terlepas tujuan apa yang hendak dicapai oleh para teroris itu sendiri.

Kendatipun begitu seiring dengan beberapa tragedy yang terjadi pada abad baru ini, kita mendapati bahwa terorisme selalu mengaitkan isu ideology dan agama sebagai pemenuhan hak dan legitimasi mereka atas bebeapa aksi yang terjadi. Karakteristik terorisme sebenarnya memiliki panadngan yang umum bahwa ia selalu melibatkan kekerasan atau ancaman kekerasan, walaupun tidak dapat semua hal kekerasn dikategorikan kepada terorisme. Ada dua hal yang sebenarnya yang dapat dikategorikan terorisme dalam masa kontemporer saat ini, pertama adalah dilandasi dengan kekerasan murni yang bertujuan untuk mendapatkan materi dan kekayaan seperti yang halnya terjadi pada decade 70 an dimana pernah terjadi pembajakan pesawat oleh bebeapa sekelompok orang yang menginginkan tuntutan uang. Kedua adalah terorisme yang dilandasi oleh Agama maupun ideology, biasanya kelompok ini menjalankan aksinya bertujuan untuk menunutut pemenuhan suatu hak yang didasarkan atas ideology dan agama. Karakteristik yang terakhir inilah yang sekarang banyak terjadi dalam beberapa tindak terorisme yang menjadi ancaman global.

Apapun definisi yang banyak dikeluarkan oleh banyak pakar, tetapi tetap pada dasarnya terorisme adalah sebuah ancaman yang harus dihadapi bersama oleh masyarakat dunia, baik itu terorisme atas dasar agama, ideology atau semacamnya karena terorisme adalah musuh bersama umat manusia.

II. Akar Pertumbuhan Terorisme Global

Perang Dunia ke II memang diyakini adalah perang yang terbesar kala itu, akibat darinya banyak tumbuh Negara-negara baru yang memerdekakan diri dari Negara induknya. Dapat disadari bahwa sejak saat itu paham yang beraliran kiri mulai redup sebagai sebuah paham dan ideology yang banyak mempengaruhi kehidupan manusia saat itu. Seiring dengan mulai tumbuh kembangnya Amerika sebagai Negara adikuasa dan mulai tumbangnya komunis di Soviet, adalah babak baru dalam percaturan politik Dunia global. System kapitalis yang diusung oleh kebanyakan Negara Barat memaksa banyak Negara dunia ketiga terjepit dalam keadaan yang sulit (Crisis Circumstances) dan terpaksa mengikuti alur politik yang sudah dirancang.

Kolonialisme dan imperialisme kebudayaan serta intervensi terhadap kedaulatan suatu Negara adalah sebuah bentuk dari penyebab adanya aksi terorisme global yang terjadi khususnya pada Negara-negara dunia ketiga. Kemudian lahir juga darinya benturan-benturan peradaban dan ideology, pertarungan antara Timur dan barat, Islam dan Kristen, Putih dan Hitam, itu semua adalah ekses yang timbul dari adanya diskriminasi dan kapitalisasi global. Ternyata terorisme tidak hanya lahir dari komunitas yang miskin dan terjepit akan kebutuhan materi semata, kini mereka justru lahir dari kalangan orang yang memiliki modal dan pengaruh kuat sehingga mampu untuk merekrut dan membiayai aksi terorisme. Hal ini berarti bahwa  perang ideology dan paham adalah penyebabnya, senada dengan hal tersebut Randolph Mank menyatakan bahwa ”The terrorism behind recent attacks have not been particularly poor. On the contrary some have been very wealthy, which explains why they can acquire weapons and followers. Sometimes the followers, of course, are poor, which is another problem. If it were that of ideology we would have been able to see a clearer logic to the attack”[8].

Sebagian Negara Barat yang tentunya mempunyai peran (role) dalam pengembangan dunia kapitlalis justru malah menampik tuduhan atas terjadinya teroris karena system tersebut, tetapi justru terorisme ada karena latar belakang politik, budaya dan ekonomi. Dari sini maka lahir dua aliran yang berbeda pendapat dalam menghadapi terorisme.

  1. Kelompok pertama diwakili oleh Negara-negara barat dan beberapa Negara lain yang bersekutu dengannya. Kelompok ini berpendapat bahwa ancaman terorisme telah semakin berkembang, bentu dan coraknya telah semakin beragam dan korbannya pun terus berjatuhan. Lantas mereka beranggapan bahwa terorisme harus diberantas dengan langsung mengeksekusi dan memburu para pelaku, bukan memikirkan dan mengatasi faktor yang menyebabkan terorisme itu ada, kalaupun mengenai  kepentingan untuk mengatasi masalah-masalah yang menyebabkan terorisme itu terjadi sebaiknya difikirkan belakangan.
  2. Kelompok kedua adalah diwakili oleh mayoritas anggota PBB dan Negara-negara dunia ketiga. Mereka lebih mengutamakan pemberantasan terorisme dengan cara memperhatikan faktor-faktor pemicunya disamping juga memerangi terorisme dan para pelakunya[9].

Sebenarnya sikap yang pertama yang diusung oleh Negara-negara Barat adalah sikap yang lebih extrim dan instant, mereka tidak memikirkan penyebab dan faktor terjadinya, karena memang dapat kita analisis bahwa pemicu itu terjadi akibat imperialisme kebudayaan, kolonialisme, intervensi dan diskriminasi yang diciptakan oleh mereka sendiri melalui kebijakan politik luar negeri. Terlebih lagi tujuan akhir mereka adalah mengendalikan umat Islam sebagai bentuk ancaman terbesar yang akan menghalangi keinginan mereka, maka tak dielakan lagi bagaimana kemudian pemenuhan hak politik, ekonomi dan sosial tidak dipenuhi secara seimbang.

Konvensi PBB tentang hak asasi manusia telah mengamanatkan kepada seluruh warga Dunia bahwa kebebasan adalah suatu hak yang dimiliki oleh siapapun, hak untuk merdeka, memiliki kedaulatan, dan lain sebagainya. Namun pada kenyataannya dan dalam perjalanannya hal tersebut tidak memberikan respon positif kepada sebagaian Negara-negara pemilik modal dan kekuasaan. Merasa bahwa dirinya adalah sebuah symbol kekuatan dan penguasa yang akhirnya ingin menjajah dan mengintervensi pihak lain dengan berbagai dalih dan alasan yang dibuat-buat.

Keadaan tersebut tentu saja memiliki ekses dan dampak yang sangat luas terhadap banyak Negara, khususnya Negara Dunia ketiga yang sangat memiliki ketergantungan terhadap kebijakan politik Negara-negara pemegang modal dan kekuasaan. Peristiwa 11 September 2001 adalah titik awal dan sekaligus puncak dari perlawanan terhadap kapitalisme global yang ternyata diikuti oleh beberapa peristiwa pengeboman di sejumlah wilayah di Indonesia. Entah mengapa Negara ini merupakan Negara yang mudah sekali dimasuki oleh para teroris beserta jaringannya, kendatipun begitu lagi-lagi ini adalah permasalahan benturan paham yang mengarah kepada banyak masalah termasuk tumbuhnya terorisme, meskipun terorisme itu sendiri bukanlah jalan yang benar dalam melawan hegemoni kapitalisme.

Dalam banyak seminar mengenai terorisme baru-baru ini, banyak dikemukakan alasan dan beberapa solusi mengenai kejahatan terorisme, diantaranya adalah yang diungkapkan oleh mantan perdana menteri Kanada Jean Chrétien dalam enam poin khusus: 1) tindakan kedepan dalam memerangi terorisme haruslah bersifat global dan melibatkan semua komunitas dunia.2) harus ada sebuah penerangan dan dialog khusus mengenai anggapan yang salah tentang ajaran Islam yang radikal dan fundamental, apalagi hal tersebut selalu terkait dengan tindakan terorisme tersebut.3) kita harus mengerti terorisme dan seluruh faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, sehingga dengan begitu akan mampu dan lebih mudah bagi kita dalam memberantas terorisme.4) adanya partisipasi dari seluruh masyarakat dunia baik aktif maupun pasif dalam memerangi teroris sesuai dengan kemampuannya masing-masing, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan lain-lain.5) harus dapat dipastikan bahwa setiap sumber daya yang ada haruslah dikembangkan di setiap Negara, baik ekonomi maupun politik, dan dengan begitu rakyat akan sejahtera.6) kita harus menghargai pluralitas dan heterogenitas dari setiap kebudayaan dan paham, dengan cara saling menghormati antara individu-individu yang hidup dalam satu komunitas[10].

Dilain sisi, kita pun mendapati adanya sebuah kesalah pahaman dalam mentafsirkan pesan moral agama, ksususnya Islam. Dalam keterangan yang diberikan oleh para pelaku Bom Bali mengenai aksinya yang menurut mereka adalah jihad. Tentu saja ini adalah sebuah apriori dan pemikiran yang benar-benar telah melenceng dari alur berfikir yang benar. Persoalan kembali terbuka secara lebar dan makin meluas ketika kita mencoba menela’ah penyebab terorisme dari sisi ini. Bagaimana seorang yang dulunya adalah pendiam, taat beribadah dan tau akan nilai-nilai kemanusian yang diajarkan sejak kecil selama bethaun-tahun, namun tiba-tiba dalam sekejap dapat dihilangkan oleh pemikiran yang salah dan melenceng.

Fenomena ini cukup jelas menyatakan kepada kita bahwa peran ulama dalam pembinaan mental dan spriritual ujmat sangat penting artinya, mereka adalah ibarat sebuah pisau yang dapat memotong kue bolu dengan rapih atu justru menikamnya dan mengoyaknya. Sesungguhnya setiap pesan moral yang diamanatkan pada setiap agama adalah mengajarkan kemanusiaan dan persaudaran terhadap sesame manusia. Keterkaitan antara itu semua adalah merupakan satu wujud nyata dari nilai-nilai sosial yang harus kita pahami.

Jihad adalah term yang mereka usung dalam melakukan aksi tersebut, namun sungguhn apa yang mereka lakukan adalah kesalah  pahaman secara menyeluruh dalam tataran konsep dan praktek. Jihad dalam perspektif salaf khalaf adalah persepsi yang sama sekali menentang apa yang dimaksud dengan jihad versi pelaku Bom Bali. Salah satu definisi yang dikemukakan oleh Syatha Al Dimyati dalam bukunya Ianatu Thalibin mengenai jihad adalah menolak kekerasan dan mengadakan kemakmuran dan kesejahteraan. Dengan demikian fenomena ini adalah masalah bersama yang harus diselesaikan secara seksama[11].

C. Terorisme Dalam Kajian Hukum Internasional Islam

Telah disinggung sedikit diatas mengenai perihal jihad dan kaitannya dengan terorisme, jihad sudah sejak awal menjadi sebuah term yang tidak bisa terlepaskan dari benak para kaum muslimin khususnya yang memahami Islam secara radikal dan fundamen. Ternyata makna jihad dalam perspektif mereka memiliki argumentasi yang berbeda dan interpretasi yang sangat ekstrim baik dalam tataran konsep dan praktek.

Hukum Internasional islam adalah sebuah konsep nyata yang mengatur hubungan antara Negara dan sesuatu yang berkaitan dengannya. Terorisme sebagai sebuah kejahatan yang dianggap sebagai kejahatan bagi seluruh dunia adalah salah satu permasalahan yang terkait dengan pembahasan Hukum Internasional Islam. Etika berperang dan damai merupakan salah satu wacana yang turut dibahas dalam kategori Hukum Internasional Islam, oleh karena itu untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal tersebut ada baiknya bila kita mengenal Jihad dari makna sebenarnya.

Istilah jihad berasal dari bahasa Arab Jahada yang bermakna “berusaha”.[12] Sedangkan dalam istilah teologis berarti berusaha dengan segala daya dan upaya dijalan Allah, menegakan agama Allah dan menyebarkan keseluruh penjuru dunia. Namun jihad tidak selalu dikaitkan dengan berperang dan mengangkat senjata, jihad juga berarti perjuangan yang dilakukan dalam rangka menuju ridha Allah, seperti belajar, berusaha dalam pekerjaan dan lain-lain.

Dalam tataran konsep ada yang membagi makna Jihad kepada dua aliran, yaitu sti’ah dan khawarij. Masing-masing dari aliran tersebut memiliki karekteristik dan corak yang berbeda dalam memahami Jihad.

  1. Aliran Syi’ah: kelompok ini memandang makna Jihad sama halnya dengan pemgertian Sunni terhadap Jihad. Yaitu membela agama Allah dan mempertahankan keyakinan yang ada dari serangan kaum Musyrikin, namun tidak selamanya mereka beranggapan bahwa Islam harus selalu bermusuhan dengan umat lain, mereka pun bisa bekerjasama untuk membasmi kemunkaran yang ada disekitar mereka. Alasan mereka mengenai hal ini sesuai dengan ajaran agama islam itu sendiri yang mengamantkan kita untuk selalu berdamai dan mengesampingkan sikap apatis terhadap umat lain.
  2. Aliran kedua adalah Khawarij: aliran ini berfikir lebih ekstrim dan fundamental, mereka berfikir bahwa sebenarnya Jihad adalah masalah yang sangat khusus dan tidak sembarangan. Hal ini berarti bahwa Jihad selalu dikaitkan dengan perang dan mengangkat senjata. Karena masalaha keyakinan menurut mereka adalah hal yang sangat prinsipil dan tidak dapat ditoleransi oleh orang lain.[13]

Pada aliran yang kedua diatas memang kita dapat menganalisa bahwa mereka beranggapan radikalisme adalah jalan yang terbaik, dan ini mempengaruhi alur berfikir mereka dalam memahami teks secara tekstua saja dan tidak menela’ah kandungannya secara lebih sempurna. Wajar saja bila mereka mengartikan bahwa tindakan peledakan dan serentetan terorisme yang dilakukan adalah suatu bentuk Jihad yang benar dan diridhai Allah.

Tentu saja pemikiran ini sangat tidak benar dan tidak sejalan dengan makna dan pesan moral Al-qur’an yang menginginkan perdamaian. Jihad dalam arti sebenarnya adalah sebuah sikap perlawanan terhadap kaum musyrikin yang benar-benar telah menodai dan melecehkan Islam, tetapi dalam konteks yang benar dan tidak merugikan orang lain apalagi membahayakan jiwa orang yang tidak berdosa.

Tentu saja dalam kajian Hukum Internasional Islam dan dalam hal ini adalah Jihad, terorisme sangat tidak dibenarkan dan merupakan jalan yang batil serta sangat terkutuk. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah pembelaan di jalan Allah, sementara di sisi lain mengorbankan jiwa yang tidak bersalah.

Apatah lagi tindakan terorisme masa sekarang lebih dilatar belakangi oleh kepentingan golongan semata, dan dengan mengorbankan orang-orang yang tidak tahu-menahu mengenai permasalahan. Marilah kita tengok kasus DR Azahari yang merekrut orang-orang yang awam untuk menjadi eksekutor Bom dalam aksinya, tentu mereka sebelumnya adalah orang-orang yang taat beragama dan sama sekali tidak memiliki pengetahuan mengenai Bom, terorisme dan sebagainya. Kendatipun begitu DR Azahari sendiri bukanlah orang yang mengerti betul tentang makna Jihad secara hakiki, kalupun ia adalah seorang yang alim, mengapa ia tidak mengajak saudaranya, anaknya dan keluarganya untuk melakukan Jihad(Terorisme) yang dianggapnya iru benar dan suci, tetapi pada nyatanya ia membidik orang-orang awam, miskin dan tidak berpengetahuan secara mendalam mengenai agama.

Analisis ini tentu sangat jelas bahwa tindakan terorisme apapun alasannya adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral dan sungguh sangat tidak berprikemanusiaan. Mungkin bisa jadi alasan yang mereka kemukakan adalah suatu bentuk perlawanan terhadap kapitalisme, tetapi bukan seperti itu perlawanan yang harus dilakukan. Kapitalisme adalah sebuah cara pandang Way of Life bangsa Barat yang sedikit banyaknya memberikan ekses negative kepada Negara-negara Dunia ketiga dan khususnya umat Muslim di Dunia. Kendatipun begitu, tidak dibenarkan bagi umat Muslim untuk memerangi umat lain dengan kekerasan dan tindakan anarkis tersebut.

Dalam kuliah umum Sosiologi Hukum yang diadakan di fakultas Syari’ah UIN Jakarta, Atho Mudzhar mengatakan bahwa seyogyanya umat Muslim menyadari bahwa terorisme bukanlah jalan untuk melawan gerak laju Kapitalisme dan tradisi Barat, tetapi kita harus memiliki Way of Life (Cara Pandang) sesuai dengan tuntunan Islam. Oleh karena itu jika kita ingin membalas dan mengadakan perlawanan, maka sepatutnya kita lawan dengan penciptaan cara pandang berbeda, misalnya pemenuhan SDM dan SDA yang layak sehingga mampu untuk bersaing dengan umat lain yang lebih maju, bukan seperti tindakan terorisme yang pengecut dan tidak berprikemanusiaan.[14]marilah kita bersama mencermati bahwa sesungguhnya Islam adalah agama damai dan tidak suka berperang, dan itu adalah satu pesan moral yang harus diketahui oleh setiap individu Muslim. Karenanya peran ulama adalah peran yang sentral dalam pembinaan umat dan sebagai media penyampaian yang benar dari makna ayat dan hadits yang tidak menyimpang.

D. Penutup

Demikianlah uraian secaar singkat mengenai wacana terorisme dan kaitannya dengan Hukum Internasional Islam. Jadi semakin jelas penjelasan terhadap kita bahwa makna Jihad adalah sebuah nilai yang sacral dan tidak bisa dikontaminasi oleh kepentingan apapun di Dunia ini. Jihad adalah sebuah nilai ibadah dan ketentuan agama yang suci dan sacral, tentu saja berbeda jauh dengan tindakan terorisme yang keji dan munkar, apatah lagi jihad tersebut hanya dipakai sebagai kedok belaka dalam niat busuk untuk melegalkan segala macam bentuk kekerasan.

Tak ayal lagi jika banyak kemudian interpretasi ayat-ayat yang berkaitan dengan jihad disalah artikan dan diselewengkan. Pemahaman dan pengertian terhadap ilmu agama adalah slah satu cara untuk menghindari itu semua, dan kita pun mengetahui bahwa terorisme adalah kejahatan global yang dikutuk oleh semua umat manusia baik itu Islam,Kristen, Budha, Hindu dan lain-lain. Dengan begitu secara otomatis Hukum Internasional Islam pun menyatakan dengan tegas bahwa terorisme adalah kejahatan yang harus dibasmi demi terjalinnya keamanan dan ketentraman Dunia.

DAFTAR BACAAN

v     L. Amin Widodo, Fiqih Siyasah Dalam Hubungan internasional, Tiara Wacana yogya

v     Ridwan Al-Makassary, Terorisme Berjubah Agama, PBB UIN dan Konrad Adenaur Stiftung

v     Microsoft Encarta Dictionary [DVD] 2006

v     Christianity today, Week of September 17 dalam http://www.christiannitytoday.com/ct/2001/138.

v     Randolph Mank, Are the Roots of Global Terrorism Cultural? In the book of  Dialogue In the World Disorder: A respond to the threat of unilateralism and world terrorism, Central Language And Cultural UIN Jakarta and konrad Adenauer Stiftung. Jakarta 2004

v     DR. Al Haitsam Al Khailani, SiapaTeroris Dunia, Pustaka Al-Kautsar 2001

v     Jean Chrétien, Against the Potential Environment of World Terrrorism: Canadian Case in the Book Dialogue In The World Disorder: A Threat of unilateralism and world terrorism. Centre for Language and Cultural UIN Jakarta and konrad Adenauer Stiftung

v     http//:www.islamlib/kritikbukuakumelawanteroris.com //

v     Fayruzabadi, Qamus al-Muhit, Vol I, Kairo;1933

v     Majid khaduri, War and Peace in The Law of Islam, Tarawang Press 1995

v     Osama bin Laden.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.


[1] L. Amin Widodo, Fiqih Siyasah Dalam Hubungan internasional, Tiara Wacana yogya hal 5

[2] Ibid, hal.6

[3] Perang dingin diyakini sebagai perang yang terbesar dalam sejarah umat manusia, namun pendapat tersebut hilang ketika terorisme mulai ada pada decade 90 an, dimana dengan terorisme bergulir adalah sebuah fenimena global yang sangat mengancam ketentraman dunia. Lebih lanjut baca  Ridwan Al Makassary Terorisme Berjubah Agama, Pusat Budaya dan Bahasa UIN

[4] Osama bin Laden lahir tahun 1957, ia adalah seorang yang berkebangsaan arab Saudi dan lahir dari keluarga yang kaya dan ayahnya merupakan pemilik property yang sangat banyak saat itu. Kemudian ia bergabung dengan militant afganistan dan menyumbangkan materi untuk melawan rusia ditahun 1980, kemudian setelah perang usai lantas ia mendirikan perkumpulan yang disebut Al-Qaeda sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni barat khususnya Amerika Serikat, dan sejak saat itu ia dan organisasinya mulai melakukan perlawanan, salah satunya dengan beberaqpa tragedy pemboman yang mengarah kepada Amerika dan sekutunya. Selengkapnya baca  Osama bin Laden.” Microsoft® Encarta® 2006 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2005.

[5] Ridwan Al-Makassary, Terorisme Berjubah Agama, PBB UIN dan Konrad Adenaur Stiftung. Hal.9

[6] Microsoft Encarta Dictionary [DVD] 2006

[7] Christianity today, Week of September 17 dalam http://www.christiannitytoday.com/ct/2001/138.

[8]Randolph Mank, Are the Roots of Global Terrorism Cultural? In the book of  Dialogue In the World Disorder: A respond to the threat of unilateralism and world terrorism, Central Language And Cultural UIN Jakarta and konrad Adenauer Stiftung. Jakarta 2004 page 81-82

[9] DR. Al Haitsam Al Khailani, SiapaTeroris Dunia, Pustaka Al-Kautsar 2001 hal. 22-23

[10] Jean Chrétien, Against the Potential Environment of World Terrrorism: Canadian Case in the Book op.,cit, Centre for Language and Cultural UIN Jakarta and konrad Adenauer Stiftung page. 85-86

[11] http//:www.islamlib/kritikbukuakumelawanteroris.com //

[12] Fayruzabadi, Qamus al-Muhit, Vol I, Kairo;1933 h.286

[13] Majid khaduri, War and Peace in The Law of Islam, Tarawang Press 1995, hal.55-56

[14] Prof.DR Atho Mudzhar, pada kuliah umum Sosiologi Hukum  di fakultas Syari’ah UIN Jakarta, Selasa 25 Desember 2005

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: