Zay Muttaqin

February 16, 2009

Melirik Romantisme Kota Bandung masa lalu

Filed under: Around us — E.Zaenal.Muttaqin @ 1:36 pm

Masih ingat bukan sebuah pesan yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengingat sejarah dan menjadikannya acuan untuk menjadi lebih baik, meskipun banyak orang yang mengenal kalimat tersebut, namun sangat sedikit orang yang memahami dan mengamalkan pesan berharga tersebut. Dan hal itu jualah yang melanda masyarakat indonesia umumnya dan masyarakat Bandung pada khususnya.

Berbicara Bandung atau yang lebih dikenal di Eropa dan masyarakat Belanda dengan sebutan Parijs van Java atau Parisnya pulau Jawa memang menarik imajinasi kita untuk lebih menyelami keindahan kota ini secara fisik maupun kejiwaan. Bandung atau kota Bandung berawal dari sebuah bekas kawah gunung berapi yang kemudian berkat jasa gubernur jenderal Hermann Willem Daendles maka ibukota priangan dipindahkan dari karapyak ke tempat yang sekarang bernama Bandung. Saya sungguh sangat terkesan dengan Daendles meskipun dia seorang yang kejam dan mampu membunuh siapapun yang dia kehendaki, namun dibalik kebengisannya tersebut tersimpan sebuah jalan pikiran yang visioner, daendles mengetahui bahwa kelak tempat ini akan menjadi sebuah tempat yang paling eksotis di pulau Jawa, oleh karena itu sebelum ia pergi meninggalkan Bandung untuk memantau pembuatan jalan raya pos ia pernah berkata sambil menancapkan tongkat di tanah (yang kemudian sampai saat ini menandai batas kota bandung) kepada bupati dan bawahannya “ Zorg als ik terug kom hier een stad is geboud” (yang artinya kira-kira seperti ini “lihat, begitu aku kembali ke sini (bandung) maka sebuah kota harus sudah dibangun” .

Dan memang perkataan daendles menjadi kenyataan, sebuah kota dibangun dengan gaya arsitektur dan tata kota yang menawan layaknya kota-kota besar di Eropa, bahkan jauh beberapa dekade setelah Daendles tiada, kota ini tumbuh menjadi salah satu kota yang paling terkenal kemashurannya baik di Indonesia maupun Belanda saat itu. Bahkan seorang artis Belanda kelahiran Surabaya pun sempat melantunkan sebuah lagu yang berjudul “Hallo Bandung” sebuah lantunan kesedihannya karena berpisah dengan bandung yang saat itu kembali ke pangkuan Republik Indonesia. Kecintaan orang Belanda atau yang biasa saya sebut dengan nenek moyang kita (nenek moyang dalam arti bukan seseorang yang memiliki darah keturunan, namun nenek moyang dalam konteks peradaban) dibuktikan dengan menata kota ini seindah mungkin, mari kita lihat bagaimana “Braga weg” atau jalan braga yang sering disebut sebagai jalan paling menarik dan paling menyerupai jalan di kota-kota Eropa pada umumnya, pembangunan gedung sate, dan gedung-gedung bersejarah lainnya, sungguh betapa para nenek moyang Belanda kita dahulu sangat luar biasa dalam menata kota bandung ini.

Namun sekarang kejayaan bandung telah sirna seiring dengan berlalunya waktu, bandung saat ini bukanlah bandung tempoe dulu yang menjadi pusat perhatian dan mampu menyita imajinasi seseorang untuk lebih menyelaminya. Bandung yang sejak peralihannya di tahun 1945 sejak indonesia merdeka lambat laun mulai tidak dihargai sebagai sebuah kota, sebuah kota yang pernah berjaya. Sebagai seorang yang menghargai sejarah seperti yang saya kemukakan di awal, bandung kini, meskipun masih merupakan sentra seni dan kreativitas, tetapi dibalik itu semua tersimpan berbagai permasalahan yang justru disebabkan oleh kita, kita sebagai penerus kejayaan bandung tempo dulu.

Pada realitasnya mungkin nenek moyang kita termasuk Daendles akan sangat bersedih dan menitikan air mata ketika mereka melihat dan menyaksikan Bandung yang saat ini, padahal mungkin jika disodorkan sebuah pertanyaan,apa susahnya sih meneruskan dan mengembangkan sesuatu yang sudah bagus? Kita mungkin baru tersadar secara kejiwaan betapa bodohnya kita saat ini, betapa kita tidak bisa menghargai sebuah maha karya, karya yang mungkin kita sendiri akan sulit mewujudkannya. Mari tengok bagaimana kemacetan, tata kota yang amburadul, dan permasalahan sosial lainnya yang menjadi maslah utama dan kadang membuat kita semua terenyuh, dan orang yang mengerti tentunya akan menitikan air mata ketika melihat bandung yang seperti saat ini.

Memang sangat indah apabila kita beromantis ria dengan mencoba masuk ke alam kejayaan kota bandung masa dahulu, namun ada satu persoalan yang juga menjadi konsekwensi logis dari sebuah romantisme masa lalu. Lagi-lagi saya menyatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengahrgai sejarah, dan sejarah itu tidakmemilah apakah ia penjajah yang dibenci (meskpuin saya menyebutnya sebagai nenek moyang yang cukup berjasa) atau bahkan pahlawan yang dielu-elukan. Mungkin perkataan pramoedya ananta toer ada benarnya juga yang mencaci bangsa kota sebagai bangsa budak diantara bangsa-bangsa, ya, budak budak hegemoni kepentingan dan keserakahan yang melanda kebanyakan masyarakat kita saat ini.

2 Comments »

  1. Assalamu’alaikum
    Baru pertama kali membuka blog ini…yang saya dapatkan kesannya dingin n kalem banget…

    Comment by Dewi N.K. — February 24, 2009 @ 8:19 am

    • wa’alaikum salam, ya makasih atas comment nya, memang dibikinnya seminimalis mungkin

      Comment by zaymuttaqin — February 24, 2009 @ 1:01 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: