Zay Muttaqin

February 12, 2009

CORAK PEMIKIRAN FIQH AL-SYAUKANI DALAM TAFSIR FATH AL-QADIR: STUDI KRITIS TERHADAP KONSEP NIKAH MUT’AH

Filed under: Islamic Thought — E.Zaenal.Muttaqin @ 3:27 am

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an al-karim adalah kalam Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada penutup para Nabi dan Rasul, yaitu junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk (hidayah) bagi seluruh umat manusia. Kitab suci tersebut datang sebagai mu’jizat yang kekal dan dipergunakan oleh Islam untuk menentang orang-orang Arab yang tidak mampu menandingi kemu’jizatan yang dimilikinya, baik dalam segi susunan kata, gaya bahasa, maupun dalam segi keindahan-keindahan syari’at, filsafat, ilmu pengetahuan maupun perumpamaan-perumpamaan yang dikandungnya.[1]

Didalam kandungan ayat al-Qur’an tersebut juga berisi tidak hanya sya’ir-sya’ir yang indah saja, melainkan juga terdapat kaidah-kaidah hukum yang harus dijadikan panduan bagi umat Islam. Oleh karena itu, kandungan al-Qur’an yang dijadikan panutan tersebut banyak dikaji dan dibahas melalui ilmu fiqh dan tafsir, yaitu fiqh sebagai cabang ilmu yang mengkaji dan menyimpulkan hukum dengan apa yang terdapat pada nash Qur’an, sedangkan tafsir adalah cabang ilmu yang mengkaji makna dan maksud yang dikehendaki oleh Qur’an itu sendiri. Namun demikian, tafsir al-Qur’an yang diyakini sebagai upaya untuk memahami dan mengungkapkan isi serta prinsip ajaran Islam juga memiliki kecenderungan hubungannya dengan fiqh, yang kemudian al-Dzahabi menyebutnya sebagai tafsir fiqh.[2]

Adalah Muhammad al-Syaukani Bin Ali, seorang ulama tafsir fiqh yang cukup terkenal baik dikalangan sunni maupun syi’ah, karangannya yang berjudul tafsir Fathu al-Qadir merupakan kitab yang menonjolkan penafsiran fiqh yang cukup moderat dan relevan, meskipun ia termasuk dalam golongan Syi’ah. Syaukani lahir di Yaman pada tahun 1172 H/1759 M, pendidikan awalnya dimulai dengan belajar al-Qur’an pada ayahnya, Ali Al-Syaukani yang juga seorang ulama yang terkemuka di Yaman pada waktu itu. Pada usia muda ia telah mampu menghafal al-Qur’an dan juga mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti fiqh, hadits, tafsir, nahwu, adab al-bahtsi wa al-munadzarah (etika berdiskusi) dan sejarah. Diantara guru-gurunya yang terkenal antara lain Abdurrahman bin Qasim al-Madani al-Harazi yang seorang ahli hadits, kemudian Ahmad bin Muhammad al-Harazi dan al-Qasim bin Yahya al-Khulani (Keduanya ahli fiqh). [3]

Berkat ketekunan dan kesungguhannya, Syaukani menjadi seorang ulama besar dan seorang mujtahid di zamannya, serta diberi gelar syaikhul Islam, selain itu pula ia menjadi sumber fatwa madzhab Zaidiah.[4] Diantara karya-karyanya yang terkenal adalah 1)Fathh al-Qadir, 2) Nail al-Authar, 3) al-Qoul al-Mufid fi Hukm al- Taqlid, 4) Irsyad al- Fuhul ila Tahqiq al-Haqq min ilmi al-Usul, 5) Fath al-Rabbani, 6) Kasyf al-Astar an Hukm asy-Syuf’ah bi al-Jiwar, 7) Nuzhah al-Ahdaq fi ilmi al-Isytiqaq, 8) al-Qaul al-Maqbul fi Radd al-Khabar al-Majhul min Gair Sahabah ar-Rasul.

Berkaitan dengan hal diatas, telah disebutkan bahwa Syaukani adalah seorang Syi’ah yang cenderung lebih moderat dan lebih rasional dalam berfikir, hal ini banyak tertuang dalam berbagai karangannya, dan salah satu pembahasan yang dikemukakannya adalah mengenai konsep nikah mut’ah dalam analisisnya.

Fenomena nikah mut’ah sudah ada sejak masa arab pra Islam yang terus berlanjut kepada masa Rasul, dan pada masa pra Islam nikah ini memiliki tujuan untuk melindungi para wanita di lingkungan sukunya. Pada masa Islam pernikahan ini mengalami pasang surut, pada masa Rasulullah SAW, nikah mut’ah mengalami beberapa kali perubahan hukum, dua kali dibolehkan, dan dua kali dilarang, dan pada akhirnya diharamkan untuk selamanya.

Secara definitif, nikah mut’ah berasal dari kata mata’a, Yamta’u, mat’an wa mut’atan yang berarti kesenangan atau kenikmatan. Sedangkan menurut istilah, yaitu pernikahan yang dilakukan oleh laki-laki dan wanita dengan akad dan jangka waktu tertentu. Nikah mut’ah merupakan salah satu bentuk pernikahan yang pernah dibolehkan oleh Rasulullah SAW, tetapi kemudian dilarang, namun bagi aliran Syi’ah hal tersebut masih dibenarkan.[5] Pun demikian, terdapat pula perbedaan interpretasi dalam hal ini pada kelompok Syi’ah dan Sunni. Sebagian besar ulama sunni jelas menyatakan nikah mut’ah adalah haram hukumnya, dan tidak ada satupun penjelasan didalam kitab para ulamanya mengenai hal ihwal pernikahan tersebut, hal ini didasarkan kepada surat an-Nisa ayat 24:

Dan diharamkan juga kamu mengawini wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki. Allah telah menetapkan hokum itu sebagai ketetapan Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian yaitu mencari isteri-isteri dengan hartamuuntuk dikawinibukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni’mati diantara mereka, maka berikanlah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajiban , dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.[6]

Maka dari ayat diatas mereka memiliki kesimpulan bahwa perkawinan bukanlah untuk main-main dan sesaat, maka berdasarkan ayat diatas tentunya mut’ah adalah sesuatu yang haram. Sedangkan dalam pandangan kelompok Syi’ah, mut’ah merupakan sesuatu yang dibolehkan dan diyakini merupakan bagian dari hukum pernikahan dalam Islam. Hal tersebut diperkuat oleh argumentasi mereka yang menyatakan bahwa al-Qur’an tidak melarang secara explisit mengenai mut’ah, meskipun hadits Rasul telah melarangnya secara tegas. Namun lebih lanjut mereka menyatakan bahwa mut’ah masih bisa dilegalkan selagi hal tersebut bisa mencegah kepada perbuatan zina, apatah lagi tidak ada dalam Islam suatu hukum yang awalnya dihalalkan, diharamkan, dihalalkan kembali dan akhirnya diharamkan selamanya. Justeru dalam surat an-Nisa ayat 24 diatas kelompok Syi’ah mengartikannya bukan sebagai isteri, oleh karena itu mereka berdalih dengan perkataan Abu Ja’far :

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ وَ عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ أَبِي نَجْرَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ نَزَلَتْ فِي الْقُرْآنِ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَ لا جُناحَ عَلَيْكُمْ فِيما تَراضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ

Artinya:

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Ja’far Alaihissalam tentang mut’ah. Lalu dia menjawab : Allah telah mewahyukan dalam Al Qur’an Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya.[7]

Demikian lebih lanjut, para ulama Syi’ah juga memberikan beberapa aturan dan ketentuan dalam pernikahan mut’ah yang antara lain:

1. Nikah mut’ah tidak terbatas hanya kepada empat orang

2. Syarat utama nikah mut’ah adalah mahar dan jangka waktu

3. Tidak ada talak dalam mut’ah

4. jangka waktu minimal mut’ah adalah satu hari

5. Nikah mut’ah berkali-kali tanpa batas

6. Wanita mut’ah diberi mahar sesuai dengan hari yang disepakati

7. Jika ternyata yang dimut’ah telah bersuami atau seorang pelacur, maka mut’ah tidak terputus dengan sendirinya

8. Diperblehkan nikah mut’ah dengan gadis dan pelacur

9. Dalam mut’ah tidak ada hubungan warisan

10. Tidak ada kewajiban nafkah kepada Isteri, karena mut’ah bukan perkawinan biasa. [8]

Dari penjelasan diatas mengenai pandangan kedua kelompok yaitu Sunni dan Syi’ah terhadap permasalahan nikah mut’ah, maka dalam tataran tafsir fiqh kita dapat menganalisa bahwa terdapat satu corak penafsiran yang berbeda diantara kedua kelompok tersebut. Kendati demikian, tidak demikian halnya dengan Syaukani, ulama yang berlatarbelakang mazhab Syi’ah Zaidiah ini ternyata lebih memiliki kesamaan pandangan kepada Ahlu Sunnah baik dalam penggalian hukum seperti al-Qur’an, Hadits, Qiyas dan lain sebagainya, berbeda dengan pandangan kelompok Syi’ah lainnya yang tentunya memiliki perbedaan yang mencolok beberapa hal, diantaranya tentang pembolehan nikah mut’ah tersebut. Meskipun demikian ternyata Syaukani adalah seorang yang cukup moderat dalam metode berfikirnya, maka kemudian corak tafsir yang dimilikinya memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan mufasir lainnya. Hal demikian dapat dilihat dari metode penafsiran Syaukani yang ia pergunakan sebagai judul kitab tafsirnya: “Fathu al-Qadir al-Jaami baina faniy al-Riwayah wa al-Dirayah fii ilmi al-Tafsir” (fath al-Qadir yang memadukan antara ilmu tafsir riwayah dan dirayah)

Syaukani memberikan alasan mengapa ia menggunakan metode campuran ini, karena ia melihat bahwa kebanyakan mufasir saat itu yang menafsirkan al-Qur’an yang terbatas kepada riwayah saja, dan ada pula yang menafsirkan berdasarkan kosa kata dan segi bahasa saja ( Tafsir al-Mufrodah), seperti yang diungkapkannya:

Pada ghaibnya (biasanya), para mufasir terkelompokan menjadi dua kelompok yang menempuh dua metode. Kelompok pertama yang mencukupkan penafsiran mereka kepada metode riwayah semata dan mereka merasa puas denga mengangkat bendera atau panji-panji tersebut. Kelompok kedua yang mencukupkan pandangan mereka pada sesuatu yang menjadi tuntutan bahasa dan yang difaedahkan oleh ilmu alatnya – seperti nahwu, sharaf dan balaghah, sementara mereka tidak mengangkat riwayah sedikitpun, meskipun riwayah-riwayah tersebut telah didatangkan kepada mereka, dan mereka pun tidak membenarkan sedikitpun terhadap kebenaran riwayah-riwayah tersebut. Dan adakalanya kedua kelompok tersebut benar adanya, panjang dan baik uraiannya, meskipun dasar-dasar karangannya cukup panjang”.[9]

Setelah Syaukani menerangkan argumentasi diatas, maka kemudian ia menerangkan perpaduan antara kedua metode: “Dengan demikian dapatlah dimengerti bahwa seorang mufasir hendaknya memadukan antara kedua metode tersebut, dan tidak hanya mencukupkan kepada salah satu metode saja. Dan inilah tujuan yang hendak saya tempuh, dan metode yang senantiasa saya cita-citakan untuk menempuhnya, Insya Allah”.[10]

Tentunya uraian diatas mencerminkan bahwa Syaukani dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an senantiasa memadukan antara riwayah (Ma’tsur) dengan dirayah (Ra’yu), disamping berupaya untuk mencari objektifitas. Maka dengan begitu kita akan menemukan ulasan dan pandangan Syaukani yang berbeda mengenai konsep nikah mut’ah, mengingan ia adalah ulama mazhab Zaidiah yang sedikit moderat dan berbeda dari kebanyakan kelompok Syi’ah lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas lebih dalam mengenai pandangan Syaukani dalam permasalahan nikah mut’ah melalui metode tafsir yang ia miliki, dan tentunya penelitian yang berjudul “Corak Pemikiran Fiqh al-Syaukani Dalam Tafsir Fath al-Qadir;Studi Kritis terhadap konsep nikah Mut’ah akan sangat menarik untuk dibahas.

B. Identifikasi Masalah

Dalam sejarah pemikiran Islam, dikenal adanya dua corak pemikiran fiqh, yaitu pemikiran fiqh yang bercorak Sunni dan Syi’ah. Kendatipun demikian, syaukani yang bermazhabkan Syi’ah memiliki pandangan yang berbeda dan lebih bersifat moderat serta dekat dengan Sunni. Metode tafsir yang dianutnya adalah mencoba menggabungkan antara Riwayah dan Ra’yu, tentunya ini akan sangat berbeda dari segi karakteristiknya dalam menafsirkan ayat.

Adalah nikah mut’ah sebagai salah satu permasalahan yang dicoba untuk dikaji dalam pemikiran dan pandangan Syaukani, tentunya dengan menilik dari metode tafsirnya yang memadukan metode Riwayah dan Ra’yu sehubungan dengan itu, maka masalah pokok yang menjadi kajian dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Corak pemikiran fiqh apakah yang dipakai Syaukani dalam tafsir Fathu al-Qadir?

2. Apakah uraian penafsiran yang terdapat dalam tafsir Fathu al-Qadir bercorak pemikiran Syi’ah?

3. Bagaimana pandangan Syaukani terhadap konsep nikah mut’ah yang oleh banyak kalangan Syi’ah diperbolehkan

4. Apakah corak tafsir Syaukani juga memiliki percampuran antara corak Syi’ah dan Sunni?

C. Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis tidak akan mengemukakan pendapat Syaukani dalam segala biang terkait dengan apa yang ia tuangkan dalam kitabnya Fathu al-Qadir, melainkan dibatasi kepada permasalahan nikah mut’ah yang menjadi topik pembahasan pada penelitian ini. Disamping itu akan dibahas juga mengenai corak dan metode penafsiran Syaukani.

Namun disamping itu, akan dibahas juga sejarah dan riwayat hidupnya sebagai seorang ulama yang dibesarkan dari lingkungan mazhab Syi’ah, yang kemudian menjadi salah satu rujukan dan sumber bagi mazhab Zaidiah.

D. Tujuan dan Signifikansi Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menemukan corak pemikiran fiqh al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir.

2. Untuk melihat bahwa melalui kajian penafsiran ayat-ayat ahkam (tafsir fiqh) dapat diketahui kemana kecenderungan als-Syaukani dalam penafsirannya.

3. Untuk mengetahui pandangan al-Syaukani terhadap konsep nikah mut’ah berikut argumen yang dikemukakan

4. Untuk memperkenalkan bahwa tafsir Fath al-Qadir banyak mengandung hal-hal baru dibidang hukum Islam, dan hal tersebut sangat berguna bagi sumbangan pemikiran.

5. Sebagai sumbangan pemikiran dan pengetahuan baru dalam wacana ilmu tafsir, dan khususnya terhadap tokoh al-Syaukani sebagai mufasir.

E. Metodologi Penelitian

Penelitian ini memusatkan perhatiannya pada pengkajian kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan melalui pengumpulan data dan informasi dengan bantuan materi yang terdapat di perpustakaan. Sesuai dengan masalah pokok yang dibahas, maka penelitian ini akan diawali dengan menemukan buku-buku yang berkaitan dengan tokoh al-Syaukani serta beberapa buku pendukung lainnya yang antara lain bersifat primer seperti buku Fathu al-Qadir dan beberapa karangan al-Syaukani yang menunjang, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data sekunder dan tertier yang menyangkut permasalahan konsep nikah mut’ah yang berasal dari buku-buku, jurnal, koran, dan majalah.

Kemudian studi dilanjutkan dengan mengemukakan penafsiran al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir yang berkaitan dengan kajian fiqh terutama konsep nikah mut’ah sebagaimana disebutkan dalam perumusan masalah diatas, dengan menggunakan metode komparatif (Perbandingan).

F. Sistematika Penulisan

Laporan penelitian ini disistematisasikan kedalam beberapa bab dab sub bab sebagai berikut:

Bab I adalah pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, ruang lingkup dan pembatasan masalah, tujuan dan signifikansi penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II memaparkan riwayat hidup al-Syaukani, pandangan ulama terhadapnya, metode dan sistematika serta sumber tafsirnya.

Bab III mengulas mengenai tafsir al-Qur’an dan periodesasinya, hajat manusia terhadap tafsir, serta metodologi tafsir.

Pada bab IV akan dibahas mengenai corak pemikiran fiqh al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir terkait dengan metode dan kerangka berfikirnya

Sedangkan pada bab V akan dibahas mengenai nika mut’ah serta pandangan al-Syaukani mengenai hal tersebut, yang terdiri dari pengertian nikah mut’ah, sejarah nikah mut’ah, pandangan nikah mut’ah menurut Syi’ah dan Sunni, pandangan nikah mut’ah menurut al-Syaukani, dan yang terakhir adalah analisis penulis terhadap konsep nikah mut’ah.

Bab VI adalah penutup, bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan sebagai hasil rangkuman dari seluruh uraian pada bab-bab sebelumnya. Kemudian dilengkapi pula dengan daftar pustaka serta lampiran-lampiran.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Syaukani, Muhammad Ibn Ali Ibn Muhammad

1993 Fathu al-Qadir, Daaru al-Fikr, Beirut.

t.t. Irsyadu al-Fuhul Ila Tahqiqial-Haq min ‘Ilmial-Ushul, Daar

al-Fikr, Beirut

Nail al-Authar Syarah Muntaqa al-Akhbar, Musthafa al-Babi

t.t. al-Halabi, Cairo-Mesir

Al-Dzahabi, Muhammad Husein,

1976 Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Daar al-Kutub al-Haditsah, Cairo,

Mesir.

Al-Gimari, Muhammad Hasan Ibn Ahmad,

1981 Imam al-Syaukani, Daar al-Syuruq, Jeddah.

Hasbi Ash-Shiddiqi dkk.,

1967 Pengantar Ilmu Fiqh, Bulan Bintang, Jakarta.

http//:www.answer.com/muslim controversies related to mut’ah.htm

http://www.answer.com//pernikahan dalam islamdan nikah mut’ah//page 1.htm

Ibrahim, Muhammad Ismail,

t.t. Al-Qur’an wa I’zaj al-Ilmi, Daaru al-Fikr al-Arabi, Cairo-Mesir.

—————————

1996 Ensiklopedia Hukum Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta


[1] Muhammad Isma’il Ibrahim, Al-Qur’an wa I’jazu al-Ilmi, (Kairo: Dar al—Fikr al-Arabi, t.th), h. 12

[2] Muhammad Husen al-Dzahabi, AlTafsir wa al-Mufasirun, (Daar al-Kutub al- Haditsah), Cairo: 1976:I:13

[3] Tim Penyusun Ensiklopedia Hukum Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, (Jakarta: 1996), h. 1701

[4] Aliran Zaidiah berpendapat bahwa yang berhak menjadi khalifah sesudah wafatnya Ali ibnu husein ialah Zaid. Zaidiyah dikenal paling baik dan moderat dibandingkan dengan madzhab-madzhab Syi’ah lainnya, dan ia paling dekat kepada Ahlus Sunnah dan Ahlu Ra’yi hanya berbeda pada masalah-masalah tertentu saja. (Lihat Hasbi Ash-Shiddiqi, Pengantar Ilmu Fiqh, Bulan Bintang, Jakarta, 1967 : 109)

[5] Tim Penyusun Ensiklopedi Hukum Islam, Op Cit, h. 1345

[6] http//:www.answer.com/muslim controversies related to mut’ah

[7] Syiah memahami surat an-Nisai bukan dalam kontek istri, jika ayat ini difahami dengan kontek istri tentu tidak dapat dijadikan dalil bagi diperbolehkannya nikah mut’ah

[8] http://www.answer.com//pernikahan dalam islamdan nikah mut’ah//page 1.htm

[9] Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukani, Fathu al-Qadir, Daaruu al-Fikr, (Beirut:1993), h.18

[10] Ibid, hal 19

1 Comment »

  1. Terima Kasih Banyak!

    Comment by Faiza Bestari Nooranda — October 14, 2009 @ 11:44 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: